Kamu Suka Sama Bayi ?

Telah lahir ke dunia… Tetangga sebelahku yang beragama nasrani, baru saja melahirkan. Anak pertama. Laki-laki. Kamarku terletak berhimpitan dengan dinding kamar tetanggaku itu. Kadang saat malam atau bahkan dini hari, sayup-sayup aku bisa mendengar tangisan bayi, Oek.. oek…
(Wah, bagaimana menulisnya nih, suara bayi begini, kan? ^ _ ^). Suara yang indah dan terdengar sangat lucu di telingaku. Aku berfikir, pasti sekarang ibunya terbangun, dan kemudian berusaha menenangkannya dengan menimang-nimangnya atau menyusuinya. Tak berapa lama, suara tangisan itu hilang. Bayi menangis kapan saja dia mau. Tidak perduli itu subuh atau tengah malam. Ketika mendengar suara tangisnya itu, aku merenung, bayi yang kudengar tangisannya hari ini, di masa depan nanti, akan menjadi apakah dia? Apakah ia tetap menjadi seorang nasrani, ataukah suatu hari nanti akan mendapat hidayah-Nya dan menjadi muslim? Bila tetap nasrani, apakah ia menjadi nasrani yang bisa bertoleransi dengan muslim, ataukah menjadi nasrani yang memerangi muslim ? Oh… bayi…, sesungguhnya engkau makhluk mungil yang tak tahu apa-apa.

Seorang Murabbi terlihat sangat sibuk dan lelah. Ia mengurus bayi laki-lakinya yang sedari tadi merengek-rengek dengan bahasa bayi yang tidak kami mengerti. Anak pertama. Di tengah-tengah pengajian, bayinya menangis… Bayi itu kemudian ditimang-timang oleh ibunya dan berhentilah tangisnya. Sungguh sebuah perjuangan bagi seorang ibu untuk bisa menenangkannya. Bayi itu ikut mengaji bersama kami. Bermain dengan pulpen-pulen kami dan menarik-narik Al Qur’an yang ada di hadapannya. Ayahnya kerap kali memanggilnya dengan sebutan, ”Anak sholeh.. anak sholeh.” Aku merenung…, bayi yang ikut dalam pengajian kami hari ini, di masa depan nanti, akan menjadi apakah dia? Apakah jalan hidupnya juga berada di jalan da’wah seperti ayah ibunya? Ataukah kelak ia menjadi manusia yang menentang Islam? Semoga saja bayi ini kelak menjadi seorang laki-laki sholeh yang turut memperkokoh barisan da’wah …

Saudariku tengah menggendong bayi perempuannya. Anak pertama. Bayi yang cantik, seperti ibunya. Bila sang bayi menguap, ibunya menutupkan tangannya ke mulut anaknya itu. Memang demikianlah adab seorang muslim ketika menguap, yaitu menutup mulut dengan tangan. Setiap orang yang melihat bayi ini, pasti akan berkata, ”Bayi yang cantik”. Aku merenung…, bayi ini, di masa depan nanti, akan menjadi apakah dia? Apakah ia akan menjadi wanita sholehah yang memelihara iffahnya? Ataukah ia akan menjadi wanita yang gemar menggunakan kecantikannya untuk menjerat laki-laki? Semoga bayi ini kelak menjadi wanita sholehah yang melahirkan para mujahid.

Di dalam Al Qur’an dikisahkan tentang Nabi Khidir yang diberi hikmah oleh Allah SWT untuk mengajari Nabi Musa a.s akan hal-hal yang tidak diketahuinya. Salah satu diantara tiga hikmah yang diajarkan Nabi Khidir adalah dengan membunuh seorang anak kecil yang ditemuinya. Hal itu tentu saja membuat Nabi Musa sangat marah dan mempertanyakan tindakan itu. Nabi Khidir tidak langsung menjawab dan berkata, ”Bukankah sudah kukatakan bahwa engkau tidak akan sabar bersamaku?” Nabi Musa terdiam dan berjanji akan bersabar bersamanya. Di ending perjalanan, barulah Nabi Khidir memberi jawaban, bahwa sesungguhnya ia membunuh anak itu karena kelak, bila sudah dewasa, anak itu akan menjadi anak durhaka dan akan membawa kedua orang tuanya yang beriman, menjadi kafir. Dan Allah SWT menghendaki untuk menggantinya dengan anak sholeh yang berbakti kepada kepada kedua orang tuanya. ” Dan adapun anak itu maka kedua orangtuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami khawatir bahwa dia akan mendorong kedua orangtuanya itu kepada kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Rabb mereka mengganti bagi mereka dengan anak lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).”. (Qs. Al-Kahfi :80-81)

Demikianlah salah satu kisah dalam perjalanan Nabi Khidir dengan Nabi Musa a.s. Tapi kita bukanlah Nabi Khidir, sehingga kita tidak tahu akan menjadi apakah kelak bayi-bayi itu. Yang bisa dilakukan oleh orang tua, pun lingkungan di sekelilingnya hanyalah berikhtiar dengan mendidiknya, sedangkan hidayah…tetap hak Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, ‘Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-islami). Ayah dan ibunya lah yang kelak menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala).’’ (HR. Muslim). Bayi-bayi… Sangat mungil dan polos. Putih bersih.

Suatu hari bayi-bayi akan dewasa dan menghadapi berbagai problematika kehidupan. Akan menjadi apakah dia? Hanya Allah SWT yang tahu. Rahasia Allah. Rezekinya, jodohnya, kematiannya, sudah ditetapkan oleh-Nya. Pena telah diangkat, dan tulisan di atas lembaran, telah mengering tintanya. Perjalanan panjang… Bayi-bayi ini akan tumbuh di zaman yang sama. Mereka ada dalam asuhan para ibu yang berbeda visi dan misi kehidupannya. Apakah suatu hari nanti bayi-bayi ini bisa hidup berdampingan dan tidak saling menzalimi ?

Bukankah kita dahulu juga adalah bayi ? Sekarang kita bisa bercermin, sudah menjadi apakah diri kita ini? Semoga kita diwafatkan Allah SWT dalam keadaan husnul khatimah, dalam keadaan muslim. Allahumma aamiin… Kepada para bayi.. Selamat datang di kehidupan fana ini. (AW)

One thought on “Kamu Suka Sama Bayi ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s