Akhawat… Akhawat…

Usai demo mahasiswa, kami para akhwat, akan pulang dengan menaiki Busway. Sambil menunggu Busway, kami mengobrol di tengah antrian yang sangat panjang. Tiba-tiba, datang laki-laki berkulit gelap. Ia memakai kaos dan bercelana jins yang maaf, underwearnya sedikit terlihat. Ia memakai topi dan di lehernya diikatkan rantai besi yang besar. Ada tato di tangannya. Mungkin sedang trend ya.. Bingung.

Laki-laki itu langsung mengantri di belakangku. Jujur saja, aku sedikit khawatir dengan penampilannya dan aku menjadi terkejut ketika tubuhnya sampai benar-benar menempel ke punggungku. Aku jadi risih. Berfikir.. berfikir… Kemudian tasku yang lumayan ”gendut” karena berisi jaket, segera kuputar saja ke arah belakang, jadi tubuh laki-laki itu tidak bisa menempel denganku. Meski di dalam tasku ada HP, camera dan barang-barang berharga lainnya, aku relakan saja kalau terjadi sesuatu, seperti pencopetan, misalnya. Pasrah.

Setelah beberapa saat.. Dia menegurku, ”Akhawat.. Akhawat…., tasnya kena saya nih.”
<ding>, pikirku. Kok orang ini bisa tahu kata ”akhwat” ya. Mungkin aku salah dengar. Kemudian aku menoleh ke belakang. Kucoba mengusir rasa takut dan tegangku, lalu menjelaskan kepadanya, ”Eh… iya, karena, itu (aku menunjuk ke arah tubuhnya), nempel ke saya nih… Maaf ya.” Kemudian aku tersenyum padanya dengan senyum yang kurasa dipaksakan. ”Oh, iya…iya…”, ujarnya. Dia tersenyum sambil mengangguk-angguk tanda mengerti, bahkan ia segera mengambil jarak denganku dengan sedikit mundur ke belakang. Aduh, semoga saja dia tidak marah…

Akhirnya Busway datang. Wah, karena antrian yang panjang, Busway yang semula kosong, dalam sekejap sudah penuh dengan orang yang duduk, pun yang berdiri. Sesak. Aku tidak dapat tempat duduk. Ternyata laki-laki itu duduk di belakangku.

Busway melaju. Aku berdiri cukup lama. Demo yang melelahkan, dan apatah lagi aku sedang puasa, membuatku sedikit pusing. Padahal perjalanan masih jauh. Lelah. Kakiku bergeser sedikit ke belakang dan eh… tak sengaja kena kaki laki-laki itu, yang memang tengah menyelonjorkan kakinya. Dia segera menarik kakinya. Aduhh.., aku bisa bikin rusuh nih, pikirku. Kan banyak tawuran yang terjadi hanya karena salah senggol. Ya ngga’? . Ya, kalau sampai ada apa-apa, tinggal teriak saja. Aku melihat para akhwat yang lain berada cukup jauh dariku. Tapi berapa banyak juga kejahatan terjadi di siang hari, yang karena emosi, langsung main set.. set.. pakai pisau. Tidak perduli di hadapan orang banyak sekalipun. Ingat.. ingat, kejahatan bisa terjadi bukan hanya karena niat dari pelakunya saja, tapi juga karena ada kesempatan. Aduh, tapi ini kan siang.. lagi pula banyak orang… Aku sibuk dengan pikiranku. Di kiri kananku banyak wanita yang berdiri juga.

Tiba-tiba terdengar lagi panggilan itu.., ”Akhawat.. Akhawat…”. Apa aku tidak salah dengar ya. Eh, tapi terdengar lagi, ”Akhawat.. Akhawat…”. Laki-laki itu menarik pelan jilbabku dari belakang. Hwaaa… Aku menoleh ke belakang. Ia segera berdiri dan berkata, ”Duduk di sini aja…” (Wah, kirain…. –red). Ia mempersilahkanku duduk di tempatnya. Aku sempat terdiam. Biasanya, aku tidak mau menerima tawaran duduk dari orang. Tapi kali ini, karena aku sudah sangat lelah, akhirnya aku mengiyakan saja dan berkata, ”Terima kasih ya…”. Aku duduk. Fiuh…

Sambil berdiri, ia bertanya, ”Habis darimana?” tanyanya dengan suara lembut.
”Itu.., habis ada acara sama teman-teman”, jawabku.
Ia mengangguk-angguk.
Wah, mungkin dia ikhwan yang sedang menyamar. On mission (?). Tapi kok…. Eng…
Ah, aku segera menghapus pikiran-pikiran itu dan mencoba menikmati saja pemandangan Kota Jakarta dalam Busway yang melaju perlahan, sambil mengingat firman Allah SWT, “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al Hujurat : 12).

7 thoughts on “Akhawat… Akhawat…

  1. zaki says:

    Khurofat Demonstrasi

    Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim Abu Salim

    Belakangan ini demonstrasi sudah bisa dikatakan sangat lumrah di negara kita. Banyak orang mengatakan bahwa ”demonstrasi” adalah bagian dari amar makruf nahi munkar, sehingga seolah-olah menjadi hal yang harus dilakukan. Namun kita harus melihat dari kacamata syar’i apakah benar demonstrasi yang dinamakan oleh pemujanya sebagai metode amar ma’ruf nahi munkar merupakan manhaj (cara beragama) Nabi yang mulia shollallohu ’alaihi wa sallam dan para sahabatnya, ataukah sesuatu yang harus diluruskan? Dan ketahuilah, tidaklah nama yang indah itu akan merubah hakikat sesuatu yang buruk, walau dibumbui dengan label Islami.

    Manhaj Nabi Dalam Ber’amar Ma’ruf

    Rasulullah bersabda, ”Agama adalah nasihat” Kami bertanya, ”Untuk siapa?” Beliau menjawab, ”Untuk Allah, KitabNya, RasulNya, para pemimpin kaum muslimin serta orang-orang awamnya.” (HR. Muslim no. 55)

    Perhatikanlah saudaraku, agama kita mensyariatkan untuk memberi nasihat. Namun tidaklah nasihat tersebut disampaikan kecuali dengan cara yang baik, tidak dengan membuka aib penguasa. Simaklah baik-baik sabda Rasulullah shollollohu ’alaihi wa sallam, ”Barangsiapa yang hendak menasihati pemerintah dengan suatu perkara maka janganlah ia tampakkan di khalayak ramai. Akan tetapi hendaklah ia mengambil tangan penguasa (raja) dengan empat mata. Jika ia menerima maka itu (yang diinginkan) dan kalau tidak, maka sungguh ia telah menyampaikan nasihat kepadanya. Dosa bagi dia dan pahala baginya (orang yang menasihati).” (Shohih, riwayat Ahmad, Al Haitsami dan Ibnu Abi Ashim)

    Saudaraku, apakah seseorang dapat menerima saranmu dengan baik jika engkau jelek-jelekkan serta kau umbar aibnya di depan umum? Bagaimana jika kejengkelan hatinya telah mendahului nasihatmu?

    Jatuh Dalam Riba Yang Paling Mengerikan

    Rasulullah shollallohu ’alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya riba yang paling mengerikan adalah mencemarkan kehormatan seorang muslim tanpa alasan.” (Shohih, riwayat Abu Dawud dan Ahmad). Kehormatan seorang muslim adalah haram, sedangkan dalam demonstrasi ini tidak jarang akan engkau temukan berbagai macam pelecehan kehormatan seorang muslim dengan mencelanya.

    Fitnah Wanita dan Ikhtilath

    Hampir di setiap gerakan massa diwarnai dengan hadirnya kaum wanita di jalan-jalan. Hal ini jelas bertentangan dengan syari’at islam karena Allah melarang wanita untuk keluar dari rumahnya kecuali dengan alasan yang syar’i. Selain itu, hal ini akan menimbulkan ikhitilath antara pria dan wanita yang bukan mahramnya secara terang-terangan! Maka cukuplah sabda Nabi yang mulia shollallohu ’alaihi wa sallam berikut ini bagi mereka. Dari ’Uqbah bin ’Amir, Rosululloh bersabda, ”Tinggalkanlah olehmu bercampur baur dengan kaum wanita!” (HR. Bukhari)

    Tasyabbuh Dengan Kaum Kuffar

    Demonstrasi adalah produk barat yang jelas-jelas menganut sistem kuffar. Maka tidak pantas bagi seorang muslim untuk memasang label ’islami’ karena memang Islam tidak mengajarkan cara seperti ini. Atau bahkan meyakininya sebagai metode dakwah yang islami. Rasulullah bersabda, ”Barangsiapa meniru suatu kaum maka ia termasuk golongan mereka.” (HR. Abu Dawud)

    Ketahuilah pembaca yang budiman, sesungguhnya Islam tidak akan menang dengan cara yang menyelisihi syari’at, namun Islam akan menang dengan cara yang benar yang dibangun di atas aqidah yang benar, dan jalan yang telah ditunjukkan Nabi Muhammad. Maka sesungguhnya kebahagiaan dan keselamatan adalah dengan mengikuti Rasul, bukan dengan menyelisihi beliau.

    • sugeng says:

      aslm.wr. wb.akhi menurut saya menyampaikan pendapat kebenaran kepada penguasa bisa dilakukan secara seorang diri ataupun beramai-ramai.alasannya adl ketika seorang wanita muslimah pernah memprotes khalifah umar ra secara terbuka dan terang-terangan dihadapan sahabat yang lain yaitu ketika beliau(umar ra) membatasi mahar para wanita,dan juga ketika seorang laki2 memberikan reaksi (dengan mengangkat pedang) atas pidato khalifah abu kahafah ra ketika beliau berpidato sebagai pengganti rasul pada peristiwa tsqifah bani saidah,
      adapun saat ini kesalahan penguasa mencampakan seluruh/sebagian syariat allah adl hal yg patut di ingatkan baik secara terbuka ataupun sembunyi…
      mungkin saya salah mohan diberi tanggapan,,

  2. abu imah says:

    Betul sekali, setuju… Ngapin juga capek2 demo, cewek lagi. Huh…mending masakin buat keluarga. Emang,… akhwat haroki pada kurang kerjaan. Males klo suruh belajar, senengnya demo, liqo’2-an, kumpul2, ngrumpi…..weks…
    Sori ya klo agak kasar, tp saya serius.

  3. anugerah says:

    To : Zaki dan Abu Imah🙂

    ———————————————————————-

    akhwat ikut berdemonstrasi

    Pertanyaan:

    Aslm.ustaz yang dimuliakan Allah SWT. Ada tiga pertanyaaan yang ingin ana tanyakan yang masih membuat ana bingung.
    1.Apa hukumnya akhwat ikut demonstrasi atau aksi. Pernahkah Rasulullah membolehkan akhwat ikut aksi.Bukannya sudah cukup bagi akhwat untuk di rumah dengan taat kepada suami,melaksanakan shalat lima waktu dan berpuasa hingga Allah akan memasukkanya ke dalam surga?
    2. apa hukumnya akhwat melakukan orasi di depan khalayak peserta demonstrasi?
    3. mana yang harus diikuti oleh akhwat mengikuti murobbi yang memintanya untuk ikut aksi atau orang tuanya yang melarangnya untuk ikut aksi?
    afwan sebelumnya.mohon diharap lebih cepat dijawab pertanyaan ini. karena teman-teman ana yang lain juga membutuhkan jawaban ini. Syukron atas jawabannya, semoga bermanfaat dalam membangun kebaikan.

    ozzy

    Jawaban:

    Assalamu alaikum wr.wb.

    Islam memandang bahwa antara kaum lelaki dan kaum wanita sama-sama memiliki kewajiban untuk beribadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu secara umum hukum yang dikenakan kepada kaum lelaki juga dikenakan kepada kaum wanita. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya para wanita itu saudara kandung kaum laki-laki” (HR Ahmad, Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

    Di sisi yang lain bahwa kaum lelaki tidak sama seratus persen dengan kaum wanita. Allah SWT berfirman: Maka tatkala isteri Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan.”(QS Ali Imran 36). Sehingga menurut pandangan Islam kesetaraan gender tidak dapat diberlakukan seratus persen. Kaum lelaki memiliki spesifikasi sebagaimana juga kaum wanita memilikinya. Jika Allah memiliki sifat Jalal (perkasa) dan Jamal (indah), maka sifat Jalal itu banyak diberikan pada kaum lelaki dibanding kaum wanita. Begitu juga sifat Jamal banyak diberikan kepada kaum wanita ketimbang kaum lelaki.

    Demikianlah Allah SWT menciptakan segala sesuatu secara seimbang dan harmonis. Allah SWT. Menciptkan kaum lelaki sebagai qowwam (pemimpin dan pelindung) kaum wanita. Allah SWT. Berfirman, artinya: “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka” (QS An-Nisaa 34). Dan Allah menciptakan kaum wanita yang memberikan sakinah (penyejuk hati) bagi kaum lelaki. Allah SWT berfirman, artinya: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS Ar-Ruum 21). Jika keseimbangan dan fitrah ini dilanggar, maka yang terjadi adalah kerusakan-demi kerusakan. Rasulullah saw. Bersabda: “Tidak akan berjaya selama-lamanya suatu kaum yang mengangkat wanita menjadi pemimpin”(HR Bukhari).

    Diantara hukum yang memiliki perbedaan antara kaum lelaki dan wanita antara lain sbb: Sholat jamaah di masjid, shalat Jumat, adzan dan iqomah, batas menutup aurat, ziarah qubur, mencari nafkah, jihad dan lain-lain.

    Adapun demonstrasi atau yang sejenisnya, seperti mukhoyyam (kemping), outbound, olah raga dan lain-lain adalah sesuatu yang secara umum hukumnya mubah bagi kaum lelaki dan wanita. Jika hal itu terkait dengan i’dad (persiapan jihad), maka wajib hukumnya bagi kaum lelaki dan dibolehkan bagi kaum wanita. Oleh karenannya, jika aktifitas tersebut akan melibatkan kaum muslimah, maka harus memperhatikan dhawabit (ukuran-ukuran) yang sesuai dengan fitrah dan adab-adab Islam terkait dengan kaum muslimah tersebut. Dhawabit itu adalah sbb:

    A. Fitrah dan tugas asasi akhawat muslimah sebagai ibu rumah tangga demi mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah.
    Allah SWT berfirman: Artinya: “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir” (QS Ar Ruum: 21 ).

    Artinya: “Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu” (QS Al Ahzab 33).

    Hadits Rasul saw.: Artinya: “Wanita adalah pemimpin di rumah suaminya dan terhadap anaknya dan dia bertangungjawab atas mereka” (HR Muslim).

    Sehingga pelibatan akhwat muslimah dalam kegiatan tersebut bersifat terbatas. Tidak semua akhwat muslimah dapat mengikuti acara tersebut dan kesertaan mereka sangat terkait dengan marhalah (tingkatan) usia dan kondisi akhwat tersebut.

    B. Adab-Adab Islami, yaitu sbb:

    1. Dilakukan Secara Terpisah dengan Kaum Lelaki (Tidak Ikhtilath) dan Menjauhi Khalwah.

    Hadits Nabi SAW: Artinya: “Janganlah seorang lelaki berkhalwat dengan seorang wanita karena yang ketiganya adalah syetan” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

    2. Ghodhdhul Bashar (Menahan Pandangan) Allah SWT berfirman:

    Artinya: Dan katakanlah kepada wanita yang beriman:”Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaknya mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dangan janganlah menampakkan perhiasannya …” ( QS An Nuur 30-31)

    3. Iltizam (Komitmen) dengan Pakaian Syar’i.

    Allah SWT berfirman: Artinya: Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu?min: ?Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ( QS Al- Ahzab 59).

    4. Hendaknya dilakukan akhwat sesuai dengan kadar kebutuhannya, tidak menimbulkan fitnah dan tidak mengabaikan tugas asasinya.

    Kaidah Fiqhiyah menyebutkan: Hajat diukur sesuai dengan batas-batas kebutuhannya

    5. Mendapat izin suami atau mahramnya

    Hadits Nabi saw.: Dari Ibnu Abbas ra. Bahwa ia mendengar Nabi saw bersabda:” Tidak boleh seorang lelaki berdua dengan wanita kecuali bersama mahramnya, dan tidak boleh wanita bepergian kecuali dengan mahramnya”. Berkata seseorang: “Wahai Rasulullah sesungguhnya istri keluar untuk naik haji, dan saya diwajibkan mengikuti perang ini dan itu.” Rasul saw.bersabda:” Pergilah berhaji bersama istrimu! (Muttafaqun ?alaihi)

    D. Kaidah Fiqhiyah Sesuatu hal yang tidak akan tercapai dan terlaksana kewajiban kecuali dengannya, maka hal tersebut menjadi wajib.

    Sehingga dalam hal ini suatu tujuan yang akan ditempuh dengan mengharuskan menggunakan sarana, maka pemakaian sarana tersebut menjadi wajib. Dan demonstrasi adalah sarana yang sangat efektif dalam melaksanakan kewajiban amar maruf nahi mungkar, dakwah dan jihad. Dengan demikian bahwa demonstrasi sebagai salah satu sarana dakwah dan amar maruf nahi mungkar serta jihad adalah sesuatu yang mutlak diperlukan dan harus dilakukan baik oleh ikhwan (kaum muslimin) maupun akhwat (kaum muslimat), demi tegaknya nilai-nilai kebenaran dan keadilan, membrantas kezhaliman dan kebatilan. Dan umat Islam harus mendukung setiap upaya kebaikan dengan cara-cara yang sesuai dengan nilai Islam demi kejayaan Islam dan kemashlahatan umat. Dan jika dalam keadaan yang dibutuhkan, akhwat muslimah dibolehkan tampil dan berorasi di depan umum dengan senantiasa menjaga adab-adab Islam. Wallahu ‘alam bishawaab.

    Wallahu a’lam bish-shawab.

    Wassalamu alaikum wr.wb.

    Sumber : http://www.syariahonline.com

  4. d3ni says:

    “….Adapun DEMONSTRASI atau yang sejenisnya, seperti mukhoyyam (kemping), outbound, olah raga dan lain-lain adalah sesuatu yang secara umum hukumnya mubah bagi kaum lelaki dan wanita…”

    Saya sangat tidak sependapat dengan pernyataan diatas. Pernyataan tersebut sangat dangkal dan tidak ilmiah. Seharusnya syariahonline.com lebih memperjelas lagi, dengan menyertakan dalil-dalil bahwa demonstrasi itu ada dan dibolehkan dalam Islam.

    Para ulama telah mengatakan bahwa demonstrasi hukumnya haram, bid’ah dan tasyabuh bil Kuffar (Meniru orang-orang Kafiiir). Mungkin maksud anti dan kawan-kawan adalah baik, yakni menyerukan aspirasi rakyat. Tetapi, cara yang anti dan kawan2 lakukan adalah SALAH!. Islam mempunyai cara tersendiri berkaitan dengan menasihati pemimpin, jadi sangat tidak pantas kalau kita meniru cara-cara orang kafir.

    Perhatikan ucapan Harun ar Rasyid:
    “Aku tidaklah lebih buruk dari Fir’aun, dan aku juga tidak lebih baik dari Musa alaihissalam. Tetapi Alloh memerintahkan Musa alaihissalam untuk berlemah lembut dalam menasihati Fir’aun..”

    Inilah jalan yang ditempuh oleh para salafusholeh, yakni bersikap lemah lembut dalam menasihati pemimpin. Kalau kita yang tidak seberapa dibanding Nabi Musa bersikap kasar terhadap pemimpin (dengan berdemo), sebenarnya siapa kita??

  5. Anti-sahaja says:

    Mari tundukan jiwa kita terhadap aturan main sang Kholik,…
    jangan sebaliknya menundukan agama sesuai hati dan keinginan kita,….
    apa pun yang dikatakan agama A ya harus A namun harus jelas kebenaran sumbernya..,…..jangan gengsi,..dan jangan takut terhadap prasangka orang lain……

    Dalam islam ada yang baik dan terbaik,…
    contoh kasus,….kaum akhwat sholat dimasjid itu baik dan bagus,..apalagi ada niat tuk berda’wah….disisi lain Alloh dan rosulnya lebih menekankan untuk kaum hawa sholatnya didalam rumah….bahkan ditempat yang paling tersembunyi (kamar red) dan ini adalah yang terbaik sholatnya kaum Hawa,……..

    dalam sebuah hadistnya Rosul bersabda;” sebaik-baiknya shaf perempuan adalah paling belakang,..”

    Banyak sekali diantara kita yang terpecah dikarnakan berbedanya pemahaman dan asumsi yang dimiliki,..dan smuanya benar kalau sesuai dan memang ada dalam Al-Quran dan hadist ( sunah ) Rosullulloh,….

    YANG perlu digaris-bawahi adalah mari kita,..lihat dan pelajari lagi terhadap fungsi dan kewajiaban bagi tiap2 insan ,…baik akhwat dan ikhwan,…
    Lihat ..!!!
    mana yang baik dan terbaik,…
    mana yang halal dan halalan thoyiban,…
    mana yang indah dan yang terindah,…

    puasa sunahnya seorang istri itu baik dan ada yang terbaik dari itu yaitu taat dan patuh kepada suaminya taatkala suaminya melarangnya dan tidak mengizinkannya untuk tidak berpuasa sunah,….dengan alasan yang sesuai aturan main sang kholik,….(disini tidak perlu dijelaskan alasannya karna alasannya ada pada mereka yang sudah berkeluarga,..)

    Cukuplah Alloh mengajarkan kehidupan kita dengan sholat,!!!

    MARI PILIHLAH YANG TERBAIK,..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s