Saat Bertamu, Salam dan Ketuk Pintu Harus Sampai Keluar Tuan Rumahnya?

1a80c4fab193890f7f9fa0ff2d157acc

Hal yang dianggap sepele, padahal ini termasuk adab bertamu dalam Islam, bahkan tercantum di dalam Al Qur’an dan Al Hadits. Saat bertamu, biasanya yang dilakukan adalah ucapkan salam, ketuk pintu atau pencet bel.

Dalam Islam, ada batasnya untuk berapa kali mengucapkan salam, yaitu 3 kali saja. Kalau 3 kali salam dan tuan rumah tidak juga bukakan pintu, maka adalah lebih baik dan utama, untuk kembali pulang saja dan tak perlu tersinggung atau merasa tidak dihargai kalau tak ada yang membukakan pintu. Kenapa begitu? Insya Allah ada hikmahnya dalam syariat Islam.

Kalau sudah salam 3 kali lalu tak ada yang bukakan pintu, jangan lalu telfon/sms ke tuan rumah, minta dibukakan pintu karena mau bertamu, atau bahkan tanya ke tetangganya, “Ini ada orangnya ngga di rumah?”
Lalu saat tetangga menjawab, “Ada tuh orangnya.” Lekas-lekas lah sang tamu kembali mengucapkan salam dan ketuk pintu lebih keras, pokoknya sampai tuan rumah keluar dari rumah. Astaghfirullah…

Jika kamu tidak menemui seorang pun di dalamnya, maka janganlah kamu masuk sebelum kamu mendapatkan izin . Dan jika dikatakan kepadamu, ‘kembali (saja)lah,’ maka hendaklah kamu kembali. Itu bersih bagimu dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. An-Nur:28)

Makna ayat tersebut disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam Tafsir-nya, “Mengapa demikian? Karena meminta izin sebelum masuk rumah itu berkenaan dengan penggunaan hak orang lain. Oleh karena itu, tuan rumah berhak menerima atau menolak tamu.” Syaikh Abdur Rahman bin Nasir As Sa’di dalam Tafsir Al Karimur Rahman menambahkan, “Jika kamu di suruh kembali, maka kembalilah. Jangan memaksa ingin masuk, dan jangan marah. Karena tuan rumah bukan menolak hak yang wajib bagimu wahai tamu, tetapi dia ingin berbuat kebaikan. Terserah dia, karena itu haknya mengizinkan masuk atau tidak. Jangan ada perasaan dan tuduhan bahwa tuan rumah ini angkuh dan sombong sekali.” Oleh karena itu, kelanjutan makna ayat “Kembali itu lebih bersih bagimu. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Artinya supaya hendaknya seorang tamu tidak berburuk sangka atau sakit hati kepada tuan rumah jika tidak diizinkan masuk, karena Allah-lah yang Maha Tahu kemaslahatan hamba-Nya. (Majalah Al Furqon).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada kita, bahwa batasan untuk meminta izin untuk bertamu adalah tiga kali. Sebagaimana dalam sabdanya,

Dari Abu Musa Al-Asy’ary radhiallahu’anhu, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Minta izin masuk rumah itu tiga kali, jika diizinkan untuk kamu (masuklah) dan jika tidak maka pulanglah!’” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan sekelas Umar bin Khattab, dengan urusan yang sangat penting pun, kalau diucapkan salam 3 kali di depan rumahnya, maka sang tamu yang juga seorang sahabat Rasul, akan memilih untuk pulang karena teringat hadits Rasul SAW.

Dari Abu Said Al-Khudriy RA, ia berkata, “Ketika aku di majelis sahabat Anshar tiba-tiba, datang Abu Musa bagaikan orang ketakutan, lalu berkata, ‘Aku datang ke rumah Umar dan mengetuk tiga kali, tetapi tidak diizinkan (dibukakan) maka aku kembali (pulang). Tiba-tiba Umar memanggil aku kembali dan bertanya, ‘Mengapa engkau kembali?’ Jawabku, ‘Aku telah mengetuk sebanyak tiga kali, dan tidak engkau bukakan pintu, maka aku kembali, sedang Rasulullah bersabda, ‘Jika seorang meminta izin (mengetuk pintu) sampai tiga kali namun tak ada jawaban, hendaklah ia kembali (pulang).’ Khalifah Umar tercengang, sebab ia belum mendengar langsung hadits tersebut dari Rasulullah SAW. Umar pun akhirnya turut ke majelis dan mendapatkan kesaksian dari Ubay bin Ka’ab bahwa dialah yang telah mendengar hadits perihal adab bertamu langsung dari Rasulullah.” (HR. Bukhari Muslim)

 

Memaafkan Itu Berat, Karenanya Besar Pahalanya

bunga-3

Abu Bakar adalah seorang yg sangat pemurah. Suka membantu orang2 miskin. Suatu hari, salah seorang yg termasuk keluarganya yg miskin, Misthah, ikut melakukan fitnah keji terhadap Aisyah, anak Abu Bakar. Setelah Allah SWT menurunkan ayat untuk membersihkan nama Aisyah, maka saat itu pula, dengan marah, Abu Bakar bersumpah tak akan lagi memberi bantuan kepada salah seorang keluarganya itu (yg ternyata miskin) yg ikut2an menyebarkan fitnah itu.

Membayangkan dalam kondisi Abu Bakar, sebenarnya perasaan Abu Bakar ini, manusiawi ya… Bayangkan, orang yg sudah sering dibantu, ternyata malah mengeluarkan fitnah, terlebih kepada anaknya, terlebih lagi kepada ummul mukminin. Tapi ternyata perbuatan Abu Bakar ini ditegur oleh Allah SWT, bahwa ada perbuatan yang lebih baik. Yaitu memaafkan. Supaya Allah SWT juga mengampuni dosa kita. Dan tidak boleh seseorang yg diberi kelebihan dalam hal harta, lalu bersumpah tak akan pernah lagi memberi bantuan kepada orang miskin hanya krn telah berbuat kesalahan, yg sudah menyakiti dirinya, menyakiti anaknya dan terpenting, menyakiti Rasulullah SAW.

Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi kepada kaum kerabat, orang-orang miskin dan para Muhajirin pada jalan Allah dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tak ingin Allah mengampuni kamu? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS 24: 22)

Pastinya melakukan ini beraaaaat sekaliii. Karena umumnya manusia akan menggunakan kekuatan hartanya untuk menekan orang miskin yg melakukan kesalahan terhadap dirinya, pribadinya, terlebih kepada agamanya. “Cabut aja bantuan untuk dia!” Begitu biasanya ujung2nya. Tapi meski berat diamalkan, ternyata balasannya sebanding: Allah SWT akan mengampuni dosa2 kita, kalau bisa melakukan akhlaq seperti itu. Subhanallah!
Dan Abu Bakar lebih memilih ampunan Allah, lalu memafkan Misthah, dan tetap memberi bantuan kepadanya seperti sedia kala.

Kalau Tidak Dengan Al-Qur’an, Dengan Apa Lagi?

bunga-2“Wahai diri, tidakkah kamu malu kepada Allah Swt? Mengaku cinta kepada Allah Swt tetapi tidak merasa senang berinteraksi dengan Kalam-Nya. Bukankah ketika manusia cinta dengan manusia lain, ia menjadi senang membaca suratnya bahkan berulang-ulang? Mengapa kamu begitu berat dan enggan untuk hidup dengan wahyu Allah Swt? Adakah jaminan bahwa kamu mendapat pahala gratis tanpa beramal shalih? Dengan apa lagi kamu mampu meraih pahala Allah Swt? Infak cuma sedikit, jihad belum siap, kalau tidak dengan Al-Qur’an, dengan apa lagi?

Wahai jiwa, tidakkah kamu merasa khawatir dengan dirimu sendiri? Selama ini hidup tanpa al-Qur’an, jatah usia makin sedikit, tabungan amal shalih masih sedikit, jaminan masuk surga tak ada di tangan. Sampai saat ini belum mampu tilawah rutin satu juz per hari, jangan-jangan Al-Qur’anlah yang tidak mau bersama dirimu karena begitu kotornya dirimu sehingga Al-Qur’an selalu menjauh dari dirimu.”

Sumber: facebook

Belum Tentu Karena Pelit

bunga-1

Suatu hari, Asti membawa proposal mencari donatur untuk membantu pengobatan orang miskin. Diberikannya proposal itu pada Lili yg terlihat cukup dalam dana dan tampak tak punya kesulitan hidup. Intinya, tak dipatok berapa sumbangan yg diberikan, berapapun boleh, seikhlasnya. Tapi ternyata Lili tak memberi sepeserpun dengan alasan tak ada dana. Pulanglah Asti dengan hati kesal dan bersungut2. Pelit! Begitu gumamnya.

Sayangnya, Asti tak tahu, bahwa beberapa hari sebelum ia datang, setengah harta Lili sudah disumbangkannya ke beberapa tempat untuk membantu orang2 yg membutuhkan. Tapi bagi Lili, tak perlu jugalah ia laporan ke Asti, bahwa ia sudah banyak nyumbang ke sana dan ke sini. Karena itu urusannya dengan Allah SWT. Cukuplah Allah SWT Yang Mengetahui. Maka ia hanya menjawab, maaf, tak ada dana.

Hikmahnya, belum tentu orang yg tak memberi ketika diminta adalah karena pelit. Tapi bisa jadi justru karena sudah terlalu banyak yg diberikan.

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (QS. Al Isra’: 29).

Berilmu dan Mengamalkan Ilmu

flower-14

Al Fatihah diawali ttg ilmu pengetahuan,
kemudian ttg perbuatan dan ilmu secara bersama2,
lalu membahas ttg ilmu tanpa perbuatan, dan
membahas perbuatan tanpa ilmu

Hanya ada 3 golongan manusia :

– Punya ilmu dan melakukan perbuatan sesuai ilmu. -> an’amta (diberi ni’mat spt para Nabi)

– Punya ilmu tapi perbuatannya tak sesuai ilmu. -> almaghdhuubi (dimurkai spt sifat2 orang Yahudi) -> Seorang muslim pun bisa punya sifat seperti ini.

– Melakukan perbuatan tapi tak didasari ilmu. -> aldhdhaalliin (sesat spt sifat2 orang Nasrani) -> Seorang muslim pun bisa punya sifat seperti ini.

Dalam sehari, 17 kali diingatkan ttg hal di atas, dalam Surat Al Fatihah.

Jangan Ceritakan Ke Suami

flower-13

“Tidak diperbolehkan seorang wanita bergaul dengan wanita lain lalu menceritakannya kepada suaminya seakan-akan suaminya itu melihatnya.” (Hadits Riwayat Bukhari, lihat Kitabun Nikah)

Hmmm.. Mungkin zaman sekarang justru wanita itu sendirilah yg menceritakan, membuka ttg dirinya, ttg kegiatan sehari2nya, ttg kelebihan2nya, ttg curhat2nya, dalam sosmed, dalam group WA, hingga bisa dibaca oleh semua laki2. Meski foto tak tampak, tapi kalau kata2nya cerita dengan ramah menggoda, genit, centil, riang gembira, ber haha hihi hoho, itu kan juga sama ya🙂

Jadi mulai ngerti kenapa Ustd Nouman Ali Khan bilang, apa yg dilakukan muslim saat ini dalam sosmed, benar2 tak terbayangkan, krn menghancurkan dinding2 yg seharusnya ditutup dalam rumah. “Why you do that”

Lagi mikir mmm…..

Bunga Api Neraka Setinggi Istana

flower-11

Sesungguhnya neraka itu melontarkan bunga api sebesar dan setinggi istana. Seolah-olah seperti iringan unta yang kuning.”
(Surat Al Mursalat: 32-33)

Membayangkan sebesar istana… Padahal itu baru bunga apinya. Kalau inget neraka, masalah dunia jadi kecil semua.

Di Dunia Hanya 2 Menit 1 Detik

flower-10

Habis nonton Film Interstellar😀

Dalam Islam, sudah sering disebutkan tentang relativitas waktu ini.
Begitulah juga waktu di dunia, cuma sebentar, hanya beberapa jam atau beberapa menit saja.

“Allah bertanya: “Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?” Mereka menjawab: “Kami tinggal (di bumi) SEHARI atau SETENGAH HARI, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.” Allah berfirman: “Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, kalau kamu sesungguhnya mengetahui.”(1) (Qs. Al-Mu’minuun 112-114)

“Dia mengatur urusan dari langit ke bumi, kemudian (urusan) itu naik kepadanya dalam satu hari yang kadarnya adalah seribu tahun menurut perhitunganmu.”(2) (QS. As-Sajadah 5)

1 hari di akhirat = 1000 tahun dunia (QS As Sajdah : 5)
24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
1 jam akhirat = 42 tahun dunia

Kalau memiliki usia 63 tahun, berarti hanya memiliki 1,5 jam saja (bila diukur dengan waktu akhirat).

“Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal (di dunia) melainkan (sebentar saja) di waktu sore atau pagi hari.” (An Nazi’at: 46)

Sore hari, hanya sekitar 2,5 jam di dunia.

Begitu pula dengan kisah Ashabul Kahfi, yang masuk ke dalam gua kemudian tertidur di dalamnya. Ketika Allah swt. bangunkan mereka dari tidur, salah seorang dari mereka bertanya kepada yang lainnya, ‘Berapa lama kamu berada di dalam gua ini?’ Mereka menjawab, ‘Kita berada di sini, paling-paling hanya sehari atau setengah hari saja’. Padahal, mereka sudah tertidur selama 309 tahun. (Q.s. al-Kahfi/18: 19 dan 24)

Ada juga yg menghitung, hanya beberapa menit saja di dunia.

“Malaikat-malaikat dan Jibril naik (menghadap) kepada Rabb dalam sehari yang kadarnya 50.000 tahun.” (QS al-Ma’arij [70] : 4)

“Bagaimana keadaan kalian jika Allah mengumpulkan kalian di suatu tempat seperti berkumpulnya anak-anak panah di dalam wadahnya selama 50.000 tahun dan Dia tidak menaruh kepedulian terhadap kalian? ” (HR Hakim dan Thabrani)

Hadits ini berhubungan dengan keadaan kita nanti di padang mahsyar. Berada di padang mahsyar selama 50 ribu tahun yang sama nilainya dengan 50 milenium = 500 abad = 6250 windu.

Mari coba kita hitung. Manusia zaman ini hidup dengan umur rata-rata 70 tahun, Rasulullah Muhammad meninggal pada usia 63 tahun. Maka, perantauan kita di dunia jika dibandingkan dengan relativitas waktu di padang mahsyar hanya akan terasa 2 MENIT 1 DETIK.

50.000 tahun = 1 hari
70 tahun = x hari

x (hari) = 70/50.000 = 0.0014 hari = 2.016 menit = 2 menit 1 detik

** Liat2 dari berbagai sumber🙂

Terpisahkan Waktu, 309 Tahun

flower-8

Membayangkan perasaan para Pemuda Kahfi yg bangun dari tidur setelah 309 tahun kemudian…

Terharu, karena tentu tak ada satupun dari mereka yg menyangka, akan menjadi bagian dari tanda kebesaran Allah. Disebut2 kisahnya hingga ribuan tahun kemudian hingga akhir zaman, terukir indah dalam Al Qur’an.

Terharu, karena dahsyatnya pertolongan Allah pada orang2 beriman. Semua mudah bagi Allah.

Terharu, karena masyarakat yg tadinya ingkar di zaman mereka, sudah tidak ada dan berganti dgn masyarakat beriman hingga seluruh lapisan. Ternyata semua akan kembali pada Allah, tidak ada kezaliman yg abadi.

Terharu, karena saat bangun dari tidur, manusia2 tercinta, keluarga, teman2, juga sudah lama pergi dari dunia. Tak terbayang kerinduannya seperti apa.

Negeri yang Terluka

flower-7

Habis nonton acara Khazanah, jalan2 ke Suriah, liat banyak peninggalan dan peristiwa bersejarah. Contohnya, sebuah bangunan di Bushra, Suriah, tempat pendeta Buhaira menjamu kafilah dagang Abu Thalib krn melihat tanda2 kenabian pada seorang anak kecil di kafilah tsb, yaitu Nabi Muhammad SAW.

Dan di Suriah lah, menjadi gerbang penyebaran Islam hingga ke berbagai wilayah dunia, pada zaman Abu Bakar dan Khalid bin Walid. Dan di Suriah juga, gerbang perang akhir zaman.

Mungkin acara itu dibuat sebelum terjadi perang di Suriah.

Tak terbayang, tempat yang semula damai di acara itu, sekarang berubah jadi wilayah perang.