Merebaknya paham sekularisme di tengah-tengah kaum Muslim yang melahirkan kebebasan dan gaya hidup individualis-materialistis rupanya telah memberikan pengaruh besar kepada kaum Muslim dan mengkondisikan mereka untuk menerima apapun yang berbau “modern”. Wajar jika kemudian, kebahagiaan diukur dengan nilai-nilai yang bersifat duniawi, seperti terpenuhinya sebanyak mungkin kebutuhan jasmani atau sebanyak mungkin materi yang dihasilkan. Akhirnya, para wanita bersaing dengan kaum pria untuk menghasilkan karya dan mendapatkan materi sebanyak-banyaknya sehingga peran wanita sebagai istri dan ibu sering diabaikan dan dianggap tidak berarti, karena tidak dapat memberikan konstribusi secara ekonomi kepada keluarga.
“….Dan laki-laki itu tidaklah sama dengan perempuan. …” (Qs. Ali Imran: 36)
“Dan hendaklah kamu tetap berada di rumahmu, dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti model berhias dan bertingkah lakunya orang-orang jahiliyah dahulu (tabarruj model jahiliyah)….” (Qs. Al-Ahzab: 33)
Shalat malam, tilawah, shalat subuh, zikir, tilawah, mandi, berhias untuk suami, menyiapkan makan pagi, menyapu, mengepel, mencuci baju, shalat dhuha, memasak, mencuci piring dan panci2, menjemur pakaian, membereskan kamar, membaca berita dan informasi, shalat zuhur, zikir, tilawah, mengangkat jemuran, membuat konsep2 usaha di rumah, shalat ashar, zikir, tilawah, menyapu, menyetrika, mandi, shalat maghrib, zikir, tilawah, shalat Isya, zikir, tilawah, menyiapkan makan malam, menonton TV. Terkadang bisa ditambah membaca al ma’tsurat, shalat sunnah, menghafal al quran, ngaji, membaca buku Islam, membersihkan wc, mengetik artikel, menjawab aneka pertanyaan masalah2 muslimah, next.. dakwah muslimah.
Apaka semua itu bukan aktivitas?
“Ngapain aja di rumah?” adalah pertanyaan aneh yang tidak perlu dijawab.
Silaturahim